antara pengangguran, pernikahan dan Air Asia

Sewaktu semasih pengangguran, yang dimana baru beberapa bulan lulus kuliah, yang dimana saya dan teman-teman masih menikmati masa-masa bebasnya kuliah, setiap hari bangun siang, kadang kalau ada waktu jalan-jalan dan begitu saja kegiatan sehar-hari semasa masih pengangguran. siapa yang tidak menikmati masa-masa masih pengangguran yang baru lulus dari kuliah, mungkin masa-masa genting itu sangat dinikmati sekali dan tidak ingin kembali ke masa kuliah dan tidak ingin cepat mencari perkerjaan, yang dimana masa ini bagi saya sangat indah, walaupun hanya sebentar dan tidak bisa selamanya menikmati masa seperti ini, tidak mungkin kan kita menjadi pengangguran selamanya? Mau jadi apa nanti, mau hidup bagaimana nanti, dan kuliah empat tahun kemarin disisia-siakan hanya untuk menganggur? 

Saya dan teman-teman memang ada yang sudah lulus kuliah duluan, ada yang lulus yang serentak dan beberapa dari kami memang menikmati masa-masa transisi antara setelah lulus kuliah ke masa mencari perkerjaan, yang kita sebut masa ini adalah masa menikmati hidup agar terlahir kembali, sebelum menghadapi kehidupan yang sebenarnya di dunia nyata, di dunia kerja. Tetapi ada hal yang membuat saya dan teman-teman agak kaget, mungkin sedikit tidak percaya, kenapa? karena saya dan teman-teman semua adalah sebaya, teman seperjuangan, lulus kuliah saja hampir bersamaan, dan apa yang membuat saya dan teman-teman begitu kaget dan tidak percaya? pada waktu itu sebelum bulan Desember, salah satu sahabat saya yang sudah lulus kuliah dan memilih menetap di Bali, beliau memberi kabar bahwa dia dan calon istrinya akan segera menikah di bulan Januari, beliau akan menjanjikan trasnportasi untuk ke Bali, penginapan di Bali dan segala kebuthan  kami selama di Bali. Saat sahabat saya itu memberikan kabar, saya dan teman-teman seakan tidak percaya, wah salah satu dari kami ada yang menikah lebih cepat, padahal kami semua baru saja lulus kuliah yang tidak terlalu lama, tetapi berita tersebut merupakan kabar baik untuk kami, walaupun sedikit agak tidak percaya bahwa salah satu teman kami akan menikah, itulah rahasi hidup tidak ada yang bisa menebak. 

Waktu demi waktu berlalu, sahabat kami yang dari Bali memberikan uang untuk mencari tiket ke Bali, karena beliau sibuk, jadi sayalah yang diutus untuk mengatur perjalanan kami ke Bali. Kami berangkat ke Bali sekitar bulan Januari, karena pesta pernikahan akan diadakan akhir Januari, jadi saya dan teman-teman memutuskan untuk berangkat seminggu sebelum acara, agar kami bisa menikmati Bali dengan liburan yang mengisi hari-hari para penganggur seperti saya dan teman-teman. Proses pencarian tiket saya yang atur, semua saya atur dengan sebaik mungkin, agar bisa menikmati dan puas perjalanan kami, dan saya mencari maskapai penerbangan yang terbaik dan memiliki banyak fasilitas agar memudahkan perjalanan kami. Setelah proses pemesanan tiket selesai, saya dan teman-teman sangat bahagia, bagaikan orang yang mendapat uang di jalan, kamipun begitu senang dan sangat tidak sabar untuk ke Bali dan menghadiri proses pernikan salah satu sahabat kami.

Sehari sebelum keberangkatan, saya dan teman-teman sudah merencanakan perjalanan kami, apa yang harus dibawa, oleh-oleh untuk sahabat kami, kado untuk pernikahan, saya dan teman-teman menggunakan pakaian warna apa agar terlihat kompak, dan kamipun sangat tidak sabar pada hari keberangkatan. Tibalah pada hari keberangkatan, kami berangkat diantar oleh adik saya, dan keberangkatan pesawat kami adalah penerbangan pagi, kami berangkat dari rumah setelah shubuh, yang dimana lokasi rumah saya dan teman-teman adalah di tangerang, yang tidak terlalu jauh untuk ke bandara, rute yang kami lewati untuk ke Bandara adalah melalui jalan biasa, tidak melewati tol, karena dari lokasi rumah kami ke bandara melewati dengan jalur belakang, yaitu jalan M1 adalah jalan tercepat, dikarenakan waktu yang masih shubuh juga, jadi kami semua sangat percaya diri, bahwa jalanan tidak akan macet. kamipun berangkat ke Bandara, melewati kota Tangerang yang masih gelap, melewati  kantor pemerintahan kota Tangerang, melewati komplek perumahan angkasa pura II, dan kondisi jalanan waktu itu sangat sepi dan kamipun sangat percaya bahwa kami tidak akan terlambat, karena jalanan yang masih sepi dan waktu keberangkatan yang masih jauh. 

Tetapi apa yang terjadi? disaat kami akan sampai di Bandara Soekarno-Hatta, ternyata di gerbang masuk pintu belakang yang dimana melewati jalan M1, ada proses pembangunan untuk pengembangan bandara yang baru, dan kondisi jalanpun sangat macet, dikarenakan pintu akses yang semula bisa dimasuki oleh tiga jalur mobil, pada kondisi saat itu menjadi satu jalur, kamipun masih santai, karena berfikir ini cuma macet biasa, mungkin tidak akan memakan waktu lama, dan kamipun melihat jadwal keberangkat masih ada dua jam lagi, jadi kami masih santai dan sabar menuggu untuk masuk bandara.

Waktupun berlalu hampir 45 menit, saya dan teman-teman mulai panik, karena kemacetan tidak segera reda, melihat waktu yang semakin terdesak, penerbangan kamipun semakin mendekat, waktu yang tersisa hanya tertinggal 1 jam lebih, salah satu teman saya pun panik berlebihan, dan mulai marah-marah, dia membayangkan bagaimana kalau kita telat, tidak bisa check in, dan teman saya yang lain juga mulai panik karena hal yang sama. Jalanan tidak kunjung reda, dan akhirnya saya dan teman-teman memutuskan turun dari mobil dan mencari ojek, berjalan mencari ojek disekitar jalanan, dan untungnya ada ojek yang siap mengantar kami ke Bandara. tetapi salah satu teman saya sangat panik, waktu sudah terlalu tipis, dia khawatir kita tidak bisa check in, tetapi saya tetap santai menghadapinya, karena saya yang melakukan pemesanan, saya yang tahu apa saja fasilitas maskapai tersebut, dan sayapun tidak panik dan tetap santai. Kamipun segera naik ojek dan menuju terminal 3 di Bandara Soekarno-Hatta.

Setibanya kami di terminal 3, teman kami yang panik langsung berlari tergesa-gesa untuk menanyakan apakah masih bisa chek in atau tidak, dan petugas maskapai yang kami tumpangi tersebut mengatakan penerbangan ke Bali sudah tidak bisa chek in. Alhasil teman saya pun marah-marah dan kesal karena tidak bisa check in, sayapun menghampiri dia, dan saya bilang ke dia, tenang saja kawan, tiket kita sudah aman, kan udah dipesan jauh-jauh hari dan melakukan check in online melalui Air Asia, jadi kita masih bisa melakukan perjalan, dan sayapun menanyakan ke petugas dan memberikan slip check in  online kami, dan petugaspun mempersilakan kami masuk ke ruang tunggu, dan teman saya yang marah-marah tersebut pun langsung tertawa bahagia, karena dia malu dan merasa hidup kita yang pengangguran bisa ke Bali, datang ke pesta pernikahan sahabat kami, kalau kami tidak memilih maskapai Air Asia, mungkin kami sudah tidak bisa check in dan kamipun batal terbang Ke Bali, sungguh memberikan kami kemudahan dengan memberikan fasiltas yang membuat semua proses penerbangan semakin mudah.

AKhirnya kami sampai di Bali, bertemu dengan sahabat kami yang akan menikah minggu depan, kamipun para pengangguran bisa berlibur ke Bali dengan murah, tiket pesawat yang gratis dari teman kami, penginapan yang sudah diatur oleh teman kami, dan satu yang membuat hidup kami semakin berwarna, kalau kami tidak memesan penerbangan dengan Air Asia, mungkin kami sudah ketinggalan pesawat dan tidak jadi ke Bali menghadiri pesta pernikahan teman kami, kamipun sangat berterima kasih dengan fasiltas dan pelayan yang sudah diberikan, hidup kami yang pengangguran bisa ceria menikmati pesta pernikahan sahabat kami berkat kami terbang bersama Air Asia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s